Ling Mei, Lala dan Li Wei tidak menyadari, di tengah kekhawatiran mereka, sebuah perisai tak terlihat telah melindungi mereka dari gelombang kehancuran serangan dahsyat yang dikeluarkan oleh Leluhur Sekte Api Langit.

"Itulah hukuman yang pantas untuk kalian yang sudah membunuh anakku," kata Leluhur Sekte, meski suaranya kini sedikit goyah karena merasakan sesuatu.

Saat debu yang berterbangan karena serangan dahsyat leluhur sekte Api Langit perlahan menghilang, mereka semua terdiam, mata mereka membelalak tak percaya.

Sosok yang mereka sangka telah musnah dalam api yang membakar segalanya, masih berdiri tegak.

Tanpa luka.

Tanpa goresan sedikit pun.

Lynx berdiri di tempatnya, tenang. Area di sekelilingnya tetap utuh, seolah serangan itu bahkan tidak pernah menyentuhnya.

Leluhur Sekte Api Langit menatapnya dengan sorot mata yang penuh kemarahan dan kebencian.

Namun, Lynx hanya menghela napas dalam hati.

"Sial... Aku sengaja meninggalkan jejak di salah satu dari mereka, tapi sekarang mereka semua musnah. Aku tidak menyangka pak tua ini akan main tangan begitu saja."

Namun, tak ada gunanya menyesali itu sekarang. Leluhur Sekte Api Langit tampak semakin marah, tatapannya berubah semakin dingin menatap sosok immortal dengan pakaian aneh yang digunakannya.

"Memang pantas kamu masih hidup," katanya dengan suara penuh kebencian. "Tidak mengecewakan sebagai orang yang sudah membunuh anakku. Akan sangat disayangkan jika kau mati terlalu cepat tanpa sempat merasakan penderitaan yang seharusnya."

Kemarahan telah membutakan pikirannya. Tata kramanya sebagai seorang leluhur telah sirna. Baginya, pria di hadapannya ini bukan hanya musuh, tapi perusak kehormatan sektenya, penghancur hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun, dan pembunuh darah dagingnya sendiri. Dia ingin membunuhnya dan melihat wajah dibalik benda yang digunakan di kepalanya.

Dengan satu gerakan, ia menghunus pedangnya. Bilahnya berkilauan dengan api keemasan, mencerminkan betapa besarnya kekuatan yang ia tuangkan ke dalamnya.

"Sebelum kamu mati, katakan alasanmu merusak sekte dan membunuh anakku!"

Namun, sebelum Lynx sempat membuka mulut, tubuh Leluhur Sekte Api Langit sudah melesat ke arahnya dengan kecepatan mengerikan!

BOOOM!

Suara bergemuruh memenuhi langit ketika Leluhur Sekte Api Langit melesat dengan kecepatan luar biasa, bagaikan meteor yang siap menghantam bumi.

Namun, Lynx hanya bergerak ringan. Tubuhnya berkedip-kedip di udara, menghilang dan muncul seperti kilatan cahaya. Ia tidak ingin serangan penghancur sang leluhur menghancurkan sekte atau mencelakai orang-orang di sekitarnya, terutama Leena.

Leluhur Sekte Api Langit langsung mengejarnya, matanya penuh kemarahan.

"Jangan lari, pengecut!" bentaknya. Tangan tuanya membentuk segel cepat.

"Nirvana Void Slash!"

Api emas membuncah dari tangannya, membentuk pedang raksasa yang berkilauan dengan energi murni. Dalam satu ayunan…

CRAAACK!

Dimensi terbelah.

Tebasan itu tidak hanya membelah langit, tetapi juga merobek ruang dimensi, menciptakan celah hitam yang nyaris menelan hutan di bawahnya. Bukan sekadar serangan biasa—jika terkena, tubuh dan eksistensi target akan terhapus dari aliran ruang dan waktu.

Namun, Lynx hanya menatap serangan itu dengan penuh ketertarikan.

"Lumayan..." katanya pelan.

Selama pertarungan, Lynx mengalirkan energi saktinya ke pakaiannya untuk mencegah pakaiannya hancur karena serangan. Lalu dia menatap serangan yang datang dan dengan santai menghadapinya. Dengan satu gerakan ringan…

CLANG!

Lynx menepis serangan itu dengan telapak tangannya saja!

BOOM!

Gelombang kejut dari bentrokan mereka menghancurkan awan di langit.

Leluhur Sekte Api Langit terbelalak. "APA?!"

Di kejauhan, banyak tokoh kuat yang telah merasakan riak energi pertarungan ini mulai bergerak. Mereka yang sebelumnya datang untuk berbela sungkawa atas kematian ketua sekte, kini bergegas menuju Sekte Api Langit dengan kecepatan penuh.

Para grandmaster dan tetua dari berbagai sekte besar pun menyaksikan dari jauh.

“Tekanan energi ini… Immortal bertarung? Bukankah itu arah Sekte Api Langit?”

“Siapa pria berbaju aneh itu? Kenapa dia bisa menahan serangan Leluhur dengan tangan kosong?”

Bahkan murid-murid Sekte Api Langit yang berada di kejauhan bisa merasakan tekanan luar biasa dari pertarungan tersebut. Mereka bergidik membayangkan apa yang akan terjadi jika pertarungan ini berlangsung lebih dekat ke sekte mereka.

Leluhur Sekte Api Langit menggertakkan giginya. Serangannya, yang seharusnya mampu menghapus keberadaan siapa pun, dihancurkan begitu saja.

Lynx menatapnya datar.

"Dengar, kakek tua. Aku tidak membunuh putramu," katanya tanpa emosi.

Namun, Leluhur Sekte Api Langit tidak menggubrisnya. Kemarahannya sudah menguasai segalanya.

“Blazing Meteor Rain!”

Leluhur Sekte Api Langit mengangkat tangannya ke langit, qi api membara mengalir dari tubuhnya, membentuk bola api raksasa yang bercahaya bagaikan matahari.

BOOOM!

Ribuan meteor berapi berhamburan dari langit, menghempas turun dengan kecepatan yang menembus udara. Setiap meteor yang menghantam Lynx meledak dahsyat, menciptakan gelombang panas yang membakar tanah di bawahnya. Meteor-meteor lainnya melesat melewati dan menghantam hutan, mengubahnya menjadi lautan api.

Namun, ketika debu dan bara mulai mereda…

Lynx masih berdiri di tempatnya, tak terluka sedikit pun.

Ia melirik Leluhur Sekte Api Langit dengan senyum tipis. "Kau hanya membuang-buang energimu."

Tanpa tergesa, ia mengangkat tangannya, membentuk serangkaian segel tangan. Ruang di sekeliling hutan bergetar, membentuk formasi yang menyelimuti api.

Dari kejauhan, para murid sekte yang menyaksikan pertempuran mengernyit bingung. Biasanya, pemadaman api dilakukan dengan elemen air, angin, atau dengan menarik air dari sungai terdekat. Namun, sosok berjubah asing itu seolah-olah menciptakan dinding tak kasat mata yang mengurung kobaran api. Asap yang berusaha naik ke langit tertahan di dalam formasi, berputar tanpa celah untuk keluar.

Yang lebih mengejutkan, api tersebut perlahan padam dengan sendirinya.

Lynx memahami prinsip segitiga api. Tanpa oksigen, api tidak akan bisa bertahan. Dengan mengisolasi udara, ia memadamkan kebakaran tanpa perlu setetes air pun.

Leluhur Sekte Api Langit mengertakkan gigi.

Ia tak dapat menerima ini. Lawannya terlihat seperti seorang immortal, tetapi ia tidak dapat merasakan tingkat kultivasinya. Bahkan jika lawannya adalah seorang immortal tingkat akhir, seharusnya jurus pamungkasnya mampu melukai. Teknik yang baru saja ia gunakan diwariskan langsung oleh leluhur Xiao Tang untuk menghadapi sekte iblis di masa lalu. Namun, yang lebih aneh lagi, ia tidak merasakan sedikit pun niat membunuh dari sosok di hadapannya.

Leluhur menarik napas dalam-dalam. Bagaimanapun juga, para murid telah bersaksi bahwa orang ini adalah pembunuh anaknya.

"Baiklah, kau memaksaku!"

Ia mengangkat kedua tangannya tinggi ke langit. Qi api membara melonjak dari tubuhnya, membakar udara di sekitarnya. Api itu berubah menjadi bentuk yang jauh lebih berbahaya—jurus terlarang yang bahkan bisa melukai dirinya sendiri.

"Infernal Phoenix Descent!"

SCREEEECH!

Dari balik awan, muncul seekor phoenix raksasa, tubuhnya tersusun dari api yang berkobar. Sayapnya membentang selebar kota, dan setiap kepakan menebarkan gelombang panas yang cukup untuk melelehkan baja. Langit berubah menjadi lautan api, suhunya meningkat hingga udara bergetar.

Para murid sekte dan para tetua yang menyaksikan dari kejauhan langsung berlutut, wajah mereka pucat ketakutan.

"Leluhur menggunakan teknik terlarang!" kata salah satu tetua.

"Bagaimana ini? Apakah leluhur ingin menghancurkan benua ini?" salah satu tetua mengeluarkan keringat dingin dan panik.

Tetua Luan berusaha menenangkan para murid yang panik karena mendengar percakapan mereka,"Percayalah, ketua sekte tidak akan melakukan hal yang membahayakan kita semua. Leluhur tahu apa yang harus dilakukannya."

Mereka semua hanya bisa menegukkan ludah, berusaha mempercayai karena tahu tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Phoenix itu menukik dengan kecepatan yang mencengangkan menuju ke arah dimana Lynx melayang dengan membawa kekuatan yang cukup untuk melenyapkan sebuah benua dalam sekejap.

Lynx sudah menduga arah serangan leluhur tersebut dan memikirkan dampaknya sehingga dia terbang keatas lebih tinggi, kemudian diam menanti.

Tatapannya tenang saat ia menatap burung api yang meluncur ke arahnya. Lalu…

Ia mengangkat satu jari.

BOOOOM!

Dengan satu sentuhan ringan, phoenix raksasa itu hancur meledak berkeping-keping, lenyap tanpa bekas. Lynx selalu berusaha mengurangi dampak ledakan energi agar tidak menghancurkan sekitarnya sehingga diam-diam dia melapisi dan mengurung ledakan dengan energi saktinya  agar tidak jauh dampak yang dihasilkan.

Keheningan.

Semua orang, termasuk Leluhur Sekte Api Langit, hanya bisa menatap dengan mata terbelalak.

Lynx akhirnya berbicara, suaranya tetap santai, seakan pertarungan tadi hanyalah angin lalu.

"Kau sudah selesai?"

Leluhur Sekte Api Langit terduduk di udara, napasnya memburu. Qi di tubuhnya bergejolak, kelelahan mulai menggerogoti tubuhnya. Ia telah mengerahkan semua teknik tertingginya, bahkan menggunakan jurus terlarang yang dapat melukai dirinya sendiri. Namun, hasilnya tetap sama. Lawannya masih berdiri di sana, tanpa goresan sedikit pun.

Sementara itu, Lynx turun perlahan, langkahnya ringan seperti daun jatuh, hingga akhirnya berdiri di hadapan lelaki tua itu.

"Kenapa kau begitu keras kepala, kakek tua? Kalau aku benar-benar berniat menghancurkan sektemu, aku bisa melakukannya dalam sekejap. Apakah kau tidak bisa diajak bicara baik-baik?"

Mata Leluhur Sekte Api Langit masih dipenuhi keraguan, tetapi sebelum ia sempat menjawab, Lynx melanjutkan,

"Aku tidak ingin menjadi musuh sektemu."

Suasana semakin tegang. Para tetua yang mendengar kata-kata mereka menahan napas, menunggu reaksi dari sang leluhur.

Namun, meskipun tubuhnya sudah kelelahan, keangkuhan Leluhur Sekte Api Langit belum padam. Ia tidak bisa menerima kekalahan ini. Sosok di hadapannya adalah pembunuh anaknya—begitulah yang ia yakini. Harga dirinya sebagai pemimpin sekte tak mengizinkannya tunduk begitu saja.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengangkat tangannya, qi api kembali berkumpul, bersiap untuk menyerang sekali lagi.

Lynx mendesah pelan. "Dasar keras kepala."

Dalam sekejap, tangannya bergerak. Sebuah pukulan sederhana meluncur ke ulu hati Leluhur Sekte Api Langit. Pukulan itu tampak ringan, seolah hanya sebuah sentuhan biasa.

Namun...

DUARR!!

Tubuh Leluhur Sekte Api Langit langsung terhentak ke belakang, matanya membelalak sesaat sebelum kesadarannya menghilang. Energi di tubuhnya mendadak lumpuh, dan ia jatuh tanpa daya.

Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Lynx sudah lebih dulu menangkapnya dengan satu tangan.

"Istirahatlah dulu!"

